COVER PROSIDING

Jumat, 14 Agustus 2015




PROSIDING: Revitalisasi Pendidikan Karakter di Era Modernisasi




PROSIDING : SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BENGKULU FKIP JIP PGSD 
ISBN : 978-602-8043-489


REVITALISASI PENDIDIKAN KARAKTER DI ERA MODERNISASI

Oleh: Yeni Asmara, M.Pd.
Dosen STKIP-PGRI Lubuklinggau
e-mail :  yeni.stkip.@gmail.com

ABSTRAK

Revitalisasi pendidikan karakter sebagai upaya meningkatkan kualitas bangsa Indonesia dapat dimulai dengan membenahi pendidikan seperti mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam kurikulum pendidikan. Nilai-nilai karakter yang akan ditanamkan kepada bangsa Indonesia adalah nilai-nilai karakter yang telah dimiliki oleh masyarakat melalui proses internalisasi. Integrasi pendidikan karakter dalam kurikulum sekolah dapat dilaksanakan melalui kurikulum yang bersifat holistik berlandaskan pada pendekatan Inquiry yaitu anak dilibatkan dalam merencanakan, bereksplorasi, dan berbagi gagasan. Adapun strategi yang dapat diterapkan oleh guru dalam mengintegrasikan pendidikan karakter  pada setiap kurikulum adalah sebagai berikut; 1) Guru dapat menerapkan metode belajar yang melibatkan partisipasi keaktifan murid, 2) Guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, 3) Guru memberikan pendidikan karakter secara eksplisit, sitematis, dan terkesinambungan dengan melibatkan aspek knowing the good, loving the good, and acting the good, 4) Guru dapat menerapkan metode pengajaran yang memperhatikan keunikan masing-masing peserta didik.
               
Kata Kunci : Revitalisasi, Pendidikan Karakter

A.      Pendahuluan
Di Era modernisasi yang ditandai dengan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang canggih telah membawa masyarakat Indonesia menjauh bahkan melupakan karakter bangsa yang merupakan pondasi utama dan penting untuk ditanamkan kepada anak-anak sejak dini. Pada saat ini dapat dikatakan Indonesia mengalami krisis multidimensional termasuk di dalamnya adalah krisis karakter terutama yang terjadi pada anak-anak sebagai generasi muda. Dari beberapa kasus yang terjadi seperti tindakan buillying yang dilakukan anak-anak di sekolah terhadap teman-teman sehingga mengakibatkan kerugian bahkan kematian.
Menurunnya nilai-nilai budi pekerti, moral dan etika dari generasi bangsa yang ditunjukkan dengan berbagai macam sikap, prilaku dan tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang sesuai dengan falsafah bangsa. Permasalahan tersebut seharusnya menjadi perhatian dan pemikiran penting bagi dunia pendidikan, dikarenakan pendidikan merupakan mekanisme institusional yang akan mengakselerasi pembinaan karakter bangsa.
 Karakter bangsa merupakan aspek penting dari kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam menghadapi era modernisasi karena kualitas karakter bangsa ikut menentukan kemajuan suatu bangsa. Sebuah peradaban akan menurun apabila terjadi demoralisasi pada masyarakatnya. Faktor moral (akhlak) adalah hal utama yang harus dibangun terlebih dahulu agar bisa membantu sebuah masyarakat yang tertib aman dan sejahtera. Dengan demikian karakter bangsa saat ini merupakan harga mati karena prilaku menyimpang telah membudaya yang hanya dapat diberantas dengan mengubah pola pikir dan karakter, tidak ada pilihan lagi jika bangsa Indonesia ingin diakui oleh dunia. Oleh karena itu seharusnya bangsa Indonesia tetap berpegang teguh pada nilai-nilai budaya yang kuat sehingga tetap mencerminkan kepribadian bangsa yang sesuai dengan falsafah Pancasila.
Melihat realita karakter bangsa yang sangat memprihatinkan, maka diperlukan upaya pemberantasan karakter buruk tersebut dengan cara mengubah pola pikir ataupun karakter manusia melalui pendidikan, sehingga pendidikan karakter sebagai pilar dari kebangkitan bangsa yang dianggap sebagai salah satu agenda strategis untuk mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari semua komponen bangsa terutama kalangan pendidik.
Pendidikan pada dasarnya upaya pembentukan karakter yang didalamnya terdapat upaya untuk memajukan budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek) dan jasmani anak didik. Karena itu pendidikan karakter harus mendapat perhatian sungguh-sungguh dari kalangan dunia pendidikan. Pendidikan karakter yang saat ini dijadikan sebagai langkah strategis dalam memperbaiki keadaan bangsa sebagai implementasi dari upaya pemerintah  merevitalisasi pendidikan karakter di setiap jenjang pendidikan, karena dianggap generasi muda saat ini telah jauh dari nilai-nilai moral budaya bangsa sesuai dengan falsafah Pancasila dan UUD 1945.
Konsep revitalisasi yang dimaksud dalam tulisan ini adalah sebuah upaya menghidupkan dan membangkitkan kembali pendidikan karakter pada jenjang pendidikan mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Maka dari itu dalam tulisan ini perlu mengemukakan tentang hakikat pendidikan karakter, sasaran pendidikan karakter, bentuk revitalisasi pendidikan karakter, strategi dan peran guru dalam revitalisasi pendidikan karakter.
                Revitalisasi pendidikan karakter dalam dunia pendidikan terutama di sekolah-sekolah sangat memerlukan tenaga pendidik yang handal, bukan saja handal dalam segi tranfer pengetahuan melainkan handal juga dalam segi olah rasa, olah jiwa dan penyampaian pesan-pesan moral. Dalam perannya tersebut pendidik harus melakukan penanaman dan pembinaan karakter bagi siswa serta menuntut kesadaran yang tinggi bagi setiap komponen yang terlibat agar dapat mengintegrasikan pendidikan karakter dalam matapelajaran setiap jenjang pendidikan. Hal tersebut sebagai upaya mengubah, membentuk dan membangun serta memperbaiki karakter bangsa Indonesia terutama generasi muda yang saat ini telah menyimpang dari falsafah bangsa.




B.  Metode
Metode merupakan cara yang dilakukan dalam mengumpulkan data. Makalah ini disusun dengan menggunakan metode literature artinya penulis melakukan pengumpulan data dengan membaca buku-buku dan dan sumber-sumber yang relevan atau mendukung pembahasan makalah yang disajikan yakni berkaitan dengan masalah revitalisasi pendidikan karakter di era modernisasi yang mencakup tentang hakikat pendidikan karakter, bentuk revitalisasi pendidikan karakter, strategi dan peran guru dalam revitalisasi pendidikan karakter.

C. Pembahasan
1. Hakikat Pendidikan Karakter
                ”Pendidikan Karakter” bukanlah ”Pendidikan tentang Karakter” tetapi merupakan proses edukasi untuk menanamkan nilai-nilai karakter yang baik pada diri peserta didik dan membimbing atau melatih anak untuk dapat dan selalu bertindak atau menjalani kehidupan sehari-hari sesuai dengan nilai-nilai tersebut (Sirozi, 2011:4)
                Krisis akhlak yang disebabkan kurang efektifnya pendidikan nilai dalam arti luas (di rumah, sekolah dan masyarakat) menimbulakan perbuatan-perbuatan yang merugikan bangsa dan negara, sehingga pendidikan dipandang belum mampu menyiapkan generasi muda untuk menjadi warga negara yang baik. Dunia pendidikan dianggap telah melupakan tujuan utama pendidikan yaitu mengembagkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan secara simultan dan seimbang. Maka dari itu diperlukan sebuah upaya revitalisasi yakni menghidupkan kembali pendidikan karakter yang telah ada sebelumnya, tetapi dalam dasawarsa terakhir dikarenakan faktor-faktor tertentu sebagai dampak modernisasi terjadilah sebuah pergeseran nilai-nilai sehingga membawa masyarakat jauh bahkan melupakan pendidikan karakter itu sendiri.
                Langkah strategis dari revitalisasi pendidikan karakter dapat dimulai dari membenahi pendidikan yaitu dengan cara mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam kurikulum pendidikan. Dalam konteks demikian maka, nilai-nilai karakter yang akan ditanamkan kepada bangsa Indonesia adalah nilai-nilai karakter yang telah dimiliki oleh masyarakat melalui proses internalisasi.
Adapun nilai-nilai karakter yang perlu dimiliki oleh anak yang dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum adalah sebagai berikut; (1) Nilai-nilai spiritual yaitu nilai keberagamaan yang berorientasi kepada etika dan akhlak serta penyeimbang antara ke saleha individu dan sosial seperti taat beragama, maju berbudaya ; (2) Nilai-nilai solidaritas kebangsaan yang harmosia dan dinamis yang perlu ditanamkan seperti kebiasaan hidup berdampingan secara damai, saling memahami, menghormati, tolong menolong untuk kemajuan bangsa dan negara; (3) Nilai-nilai kedisiplinan yaitu membiasakan agar selalu tepat pada waktu, dan menyadari norma-norma hukum yang berlaku; (4) Nilai-nilai kemandirian, seperti melatih untuk melakukan sesuatu dengan usaha sendiri tidak selalu bergantung kepada orang lain; (5) Niali-nilai kemajuan dan keunggulan seperti membangun karakter yang selalu berorientasi kepada prestasi dan semangat kerja (Nawawi, 2011:5).
Kemudian nilai-nilai karakter lain yang dapat diintegrasikan dalam kurikulum yaitu nilai-nilai yang dimiliki oleh manusia Indonesia misalnya; 1) Nilai religius; yang dicirikan oleh sikap hidup dan kepribadian seperti taat beribadah, jujur, terpercaya, dermawan, saling tolong menolong dan toleran, 2) Moderat yang dicirikan dari sikap hidup yang tidak radikal, kepribadian tengahan antara individu dan sosial, berorientasi materi dan rohani, hidup bersama dalam kemajemukan, 3) Cerdas yang dicirikan oleh sikap hidup rasional, cinta ilmu, terbuka, dan berpikiran maju, 4) Mandiri yang dicirikan oleh sikap hidup mereka, disiplin, hemat, menghargai waktu, ulet, wirausaha, kerja keras, cinta bangsa tanpa kehilangan orientasi ( PP-Muhammadiyah, 2009).
                Nilai-nilai karakter tersebut dapat berjalan efektif jika dalam pengintegrasian pada kurikulum dapat dikemas dalam bentuk pengalaman langsung (real life exferience), melalui proses habituasi, akulturasi, dan inkulturasi. Jalaludin (2011:9) menjelaskan bahwa untuk dapat secara efektif membentuk ”tabiat” atau ”perangai” dengan menanamkan nilai-nilai maka, pendidikan karakter perlu lebih menekankan proses bukan hanya content dan contexts, bukan hanya text. Dengan kata lain, pendidikan karakter tidak cukup jika hanya dikemas dalam bentuk ceramah, pengarahan atau pidato-pidato. Pendidikan karakter memerlukan program-program yang riil, yang berkaitan dengan kehidupan nyata dan ditunjang oleh ilmu tingkah laku, dan paling penting adalah “pendidik” yang memberikan contoh tersebut.
                Dengan landasan keilmuan yang kuat dan pengalaman langsung melalui proses habituasi, akulturasi, dan inkulturasi maka, pendidikan karakter yang mengintegrasikan nilai-nilai kehidupan diharapkan dapat membentuk prilaku lahir batin warga negara, serta dapat menjadikan anggota masyarakat memiliki keseimbangan antara kehidupan pribadi dan lingkungan, menjunjung tinggi kehormatan, peduli, berkeadilan dan bertanggung jawab.
Pendidikan karakter yang mencakup pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral dan watak yang dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum dalam setiap jenjang pendidikan dituntut untuk dapat mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memberikan keputusan-keputusan baik, memelihara apa yang baik dan mewujudkan kebaikan tersebut dalam kehidupan sehari-hari (Kemendiknas, 2011). Pendidikan karakter yang diintegrasikan ke dalam kurikulum bukan hanya sekedar menanamkan mana yang benar atau salah tetapi berusaha menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik sehingga peserta didik mampu bersikap dan bertindak berdasarkan nilai-nilai yang telah menjadi kepribadiannya.
Menurut Gedhe (2011:23) menjelaskan bahwa nilai-nilai pendidikan karakter yang dintegrasikan ke dalam kurikulum akan efektif apabila dalam pelaksanaanya ada keseimbangan antara aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Penekanan pada aspek kognitif diperlukan, agar peserta didik dapat membuat pertimbangan moral (value analysis) dan mendiskusikan alasan-alasan tentang kedudukan nilai-nilai yang terkait dengan karakter melalui proses berpikir logis.
Keseimbangan ranah kognitif, afektif dan psikomotor dapat diwujudkan ke dalam semua perangkat pembelajaran baik yang tercantum dalam teks kurikulum formal maupun yang tersembunyi di balik pola interaksi interpersonal di lingkungan sekolah. Kemendiknas (2011:5) menjelaskan bahwa keseimbangan antara pengetahuan yang baik (moral knowing), perasaan yang baik atau loving good (moral feeling) dan prilaku yang baik (moral action) adalah prasyarat bagi keberhasilan pendidikan karakter, karena hanya dengan keseimbangan tersebut dapat diwujudkan kesatuan perilaku dan sikap hidup peserta didik, yang juga dijelaskan oleh Sayid Qutub bahwa pendidikan karakter perlu menjaga keseimbangan antara pengembangan spritual-perasaan, intelek-rasional dan jasmaniah.

2. Sasaran Pendidikan Karakter
                Untuk menyukseskan program revitalisasi pendidikan karakter membutuhkan dukungan dan kerjasama antara semua pihak. Pendidikan karakter yang bertujuan membentuk kepribadian seseorang, akan terlihat hasilnya dalam tindakan nyata seorang tersebut seperti tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras, dan sebagainya. Kesemua hasil itu dapat terjadi secara konkret apabila semua pihak bukan hanya sekedar mendukung dalam bentuk instruksi saja tetapi yang lebih penting bagaimana semua pihak yang bertanggung jawab atas pembentukan kepribadian bangsa dapat menjadi contoh dalam melaksanakan karakter yang baik sesuai dengan nilai-nilai moral yang berlaku bagi generasi bangsa. Pendidikan karakter tanpa adanya contoh atau keteladanan dari semua pihak, maka tidak akan membuahkan keberhasilan.
                Sasaran pendidikan karakter bukan hanya diperuntukan bagi siswa ketika berada di sekolah, bukan hanya untuk anak ketika berada di rumah, atau bukan juga hanya masyarakat bawah jika dalam sebuah negara. Ketika berada di lingkungan rumah, sekolah, bahkan negara sosok seperti orang tua, guru, pemerintah sebagai pemimpin, dan semua pihak yang ada dalam trilogi pendidikan harus mampu menjadi teladan atau contoh yang baik dalam setiap lingkungan tempat melakukan interaksi, dikarenakan contoh yang nyata dapat memudahkan baik anak, siswa atau masyarakat sekalipun dapat mudah memahami pengetahuan yang diperoleh, dalam pendidikan yang lebih penting bukan hanya penguasaan materi atau pengetahuan saja melainkan perlu mengedepankan akhlak, moral yang baik untuk meningkatkan kualitas SDM yang siap menghadapi tantangan di era modernisasi sehingga bangsa Indonesia tidak kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang berlandaskan Pancasila.
                Hubungannya dengan pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah maka guru, siswa dan anggota komunitas sekolah harus bersama-sama berjuang dalam menghayati visi dan merealisasikan nilai-nilai pendidikan dalam kehidupan. Karena guru adalah pelaku perubahan. Dengan demikian guru memiliki peranan utama sebagai pendidik karakter. Sebagai pendidik karakter, guru wajib membekali para siswa dengan nilai-nilai kehidupan yang positif dan yang berguna bagi kehidupan siswa pada saat ini dan masa yang akan datang. Guru yang baik akan membawa perubahan terhadap para siswa menuju ke arah yang lebih baik, membuat siswa menjadi cerdas, membuat siswa mampu memahami dan menyelesaikan permasalahan yang dihadapi, dan yang paling penting adalah membangun karakter positif.

3. Bentuk Revitalisasi Pendidikan Karakter
Upaya dalam menghidupkan dan membangkitkan kembali (Revitalisasi) pendidikan karakter yang merupakan langkah penting dilakukan oleh pemerintah seperti dengan mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam berbagai kurikulum yang ada di sekolah-sekolah mulai dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi.
Pendidikan karakter yang dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah bukan hanya memberikan aktifitas kognitif saja pada peserta didik tanpa diberikan pengalaman dan habituasi, sehingga memungkinkan lahirnya generasi yang memiliki pengetahuan luas tentang karakter tetapi tidak memiliki karakter. Tantangan yang paling mendasar dalam pelaksanaan pendidikan karakter adalah kemampuan membentuk manusia-manusia yang tidak hanya memiliki pengetahuan yang luas tentang karakter, tetapi juga punya karakter (Sirozi, 2011:7). Dengan demikian pendidikan karakter sebaiknya tidak monolitik atau dikemas dalam satu mata pelajaran tersendiri, tetapi diintegrasikan dengan semua kegiatan baik kurikuler dan ekstra kurikuler. Dengan kata lain pendidikan karakter diharapkan dapat menjadi inti dari semua program pendidikan atau matapelajaran dikarenakan bagian yang paling esensial dari pendidikan karakter adalah “membangun karakter” bukan membuat “mata pelajaran pendidikan karakter”.
                Pendidikan karakter dapat terlaksana dengan baik apabila lembaga pendidikan dapat membenahi kondisi dan mutunya yang berhubungan langsung dengan fungsi dan peran lembaga pendidikan itu sendiri. Herbert Spenser menjelaskan bahwa ”education has for its object the formation of character” pendidikan bertujuan untuk membentuk karakter (Arsyad, 2011:10). Selain itu, terlaksananya pendidikan karakter memerlukan kesadaran, semangat, dan komitmen yang tinggi dan disertai dengan strategi yang tepat sehingga pendidikan karakter dapat berjalan efektif.
                Melalui pola terpadu (Intergrated Character Education), maka pendidikan karakter diharapkan menjadi perhatian dan tanggung jawab semua pendidik, apapun bidang studi atau pelajaran yang diajarkannya. Semua guru bidang studi berpartisipasi aktif dan menjadi teladan yang baik dalam menyukseskan pendidikan karakter. Ketika muncul persoalan karakter dalam kehidupan peserta didik, maka semua pendidik turut bertanggung jawab, bukan saling menyalahkan antar guru bidang studi tertentu.
                Untuk pencapaian tujuan pendidikan karakter yang utuh, diperlukan kurikulum yang bersifat holistik yaitu kurikulum terpadu yang menyentuh semua aspek kebutuhan anak. Muslich (2011:32) menjelaskan bahwa sebuah kurikulum yang terkait, tidak terkotak-kotak dan dapat merefleksikan dimensi, keterampilan, dengan menampilkan tema-tema yang menarik dan kontekstual. Bidang-bidang pengembangan dalam setiap satuan pendidikan dikembangkan pada konsep pendidikan kecakapan hidup yang terkait dengan pendidikan personal, sosial, pengembangan berpikir atau bersifat kognitif, pengembangan karakter dan pengembangan persepsi motorik dapat terangkum dengan baik apabila materi ajarnya dirancang melalui pembelajaran yang terpadu dan menyeluruh (holistik).
                Secara teknis, pembelajaran holistik terjadi apabila kurikulum dapat menampilkan tema yang mendorong terjadinya eksplorasi atau kejadian-kejadian secara autentik dan alamiah. Azra (2012:25) menjelaskan bahwa dengan munculnya tema atau kejadian yang alami ini akan terjadi suatu proses pembelajaran yang bermakna dan materi yang dirancang akan saling berhubungan dengan berbagai bidang pengembangan yang ada dalam kurikulum.
                Pendidikan karakter dengan kurikulum holistik berlandaskan pada pendekatan Inquiry yaitu anak dilibatkan dalam merencanakan, bereksplorasi, dan berbagi gagasan. Anak-anak didorong untuk berkolaborasi bersama teman-temannya dan belajar dengan cara mereka sendiri. Anak-anak dapat diberdayakan sebagai si pembelajar dan mampu mengejar kebutuhan belajar mereka melalui tema-tema yang dirancang. Pembelajaran holistik dapat dilakukan dengan baik apabila pembelajaran dilakukan bersifat alami, natural, nyata, dekat dengan diri anak, dan guru melaksanakannya dapat memiliki pemahaman konssep pembelajaran terpadu dengan baik, selain itu juga dibutuhkan kreatifitas dan bahan-bahan sumber yang kaya serta pengalaman guru dalam membuat model-model pembelajaran yang tematis sehingga pendidikan karakter dapat lebih bermakna dalam pelaksanaannya.
                Adapun tujuan dari pengintegrasian pendidikan karakter dalam kurikulum yang sifatnya holistik dapat membentuk manusia secara utuh yang berkarakter dengan mengembangkan aspek fisik, emosi, sosial, kreatifitas, spiritual dan intelektual siswa secara optimal, serta membentuk manusia yang life long learners (pembelajar sejati).

4. Strategi dan Peranan Guru dalam Revitalisasi Pendidikan Karakter
                Revitalisasi pendidikan karakter dapat berhasil dengan baik apabila semua komponen pendidikan memiliki komitmen yang tinggi untuk melakukan perbaikan kualitas SDM meliputi perbaikan dan peningkatan terhadap karakter bangsa yang bermoral, beretika, dan berbudaya. Apabila komponen pendidikan tersebut terutama pendidik tidak memiliki kesadaran tinggi dan kompetensi yang handal untuk melaksanakan revitalisasi tersebut, maka pendidikan karakter yang saat ini merupakan langkah strategis bagi pemerintah di bidang pendidikan dengan tujuan untuk memperbaki moral bangsa hanya akan menjadi sekedar wacana tanpa ada hasilnya.              Strategi yang dapat diterapkan oleh guru dalam mengintegrasikan pendidikan karakter dalam setiap kurikulum sebagai bentuk revitalisasi sebagai berikut; 1) Guru dapat menerapkan metode belajar yang melibatkan partisipasi aktif murid, yaitu metode yang dapat meningkatkan motivasi murid karena seluruh dimensi manusia terlibat secara aktif dengan diberikan materi pelajaran yang konkrit, bermakna, seeta relevan dalam konteks kehidupannya (student active learning, contextual learning, inquiry-based learning, integrated learning), 2) Guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang kondusif sehingga anak dapat belajar dengan efektif di dalam suasana yang mampu memberikan rasa aman, penghargaan tanpa ancaman, dan memberikan semangat, 3) Guru memberikan pendidikan karakter secara eksplisit, sitematis, dan berkesinambungan dengan melibatkan aspek knowing the good, loving the good, and acting the good, 4) Guru dapat menerapkan metode pengajaran yang memperhatikan keunikan masing-masing anak, yaitu menerapkan kurikulum dengan melibatkan sembilan aspek kecerdasan (Muslich, 2011:33).
                Adapun strategi lain dari revitalisasi pendidikan karakter yang dapat diterapkan di sekolah-sekolah seperti yang dikemukakan oleh Thomas Lickona (2013: 181) yakni menciptakan lingkungan kelas yang demokrasi, mengajarkan cara menghormati dan bertanggung jawab, mengajarkan cara menyelesaikan konflik, membantu siswa berpikir jernih soal kecurangan, mengajari siswa untuk peduli terhadap nilai-nilai moral.
                Ketika pendidikan karakter telah diintegrasikan dalam kurikulum maka, peranan guru dalam pendidikan karakter itu sendiri adalah sebagai berikut; 1) Mencintai anak, cinta yang tulus pada anak adalah awal mendidik anak sehingga dapat mendorong anak untuk melakukan yang terbaik pada diri anak; 2) Bersahabat dengan anak dan menjadi teladan bagi anak dalam setiap ucapan, perbuatan yang lebih menyenangkan, sopan dan beradab; 3) Mencintai pekerjaan guru yang diwujudkan dengan mencintai anak didiknya satu persatu, memahami kemampuan akademisnya, kepribadian murid dan kebiasaan-kebiasaan lainnya; 4) Luwes dan mudah beradaptasi dengan perubahan artinya guru harus terbuka dengan teknik mengajar baru, tidak sombong dan selalu mencari ilmu; 5) Tidak pernah berhenti belajar dalam rangka meningkatkan profesionalitas.
                Disamping itu Masnur Muslich (2011:142) menyebutkan bahwa guru sebagai ujung tombak dari keberhasilan pendidikan karakter maka guru pun harus menunjukkan sebagai guru yang berkarakter seperti; 1) Memiliki pengetahuan keagamaan yang luas dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari secara aktif, 2) Bersih jasmani dan rohani, 3) Pemaaf, penyabar, dan jujur, 4) Berlaku adil terhadap peserta didik dan semua stakeholders pendidikan, 5) Mempunyai watak dan sifat ketuhanan (robbaniyah) yang tercermin dalam pola pikir, ucapan dan tingkah laku, 6) Meningkatkan kualitas keilmuan secara berkelanjutan, 7) Tegas bertindak, profesional, dan proporsional, 8) Tanggap terhadap berbagai kondisi yang mungkin dapat mempengaruhi jiwa, keyakinan, dan pola pikir peserta didik; dan 9) Menumbuhkan kesadaran diri sebagai penasihat.
Dengan adanya peranan guru dalam pendidikan karakter seperti yang diungkapkan di atas dapat menjadi pendukung untuk merevitalisai nilai-nilai karakter bangsa melalui pengintegrasiannya ke dalam kurikulum yang bersifat holistik, sehingga keresahan dalam dunia pendidikan tidak akan terjadi lagi serta membuat bangsa Indonesia memiliki jati diri dan martabat yang tinggi di kalangan Internasional.

D. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
                Keberhasilan revitalisasi pendidikan karakter perlu adanya dukungan dan kerjasama oleh semua pihak terutama guru sebagai pelaku dari perubahan yang memiliki peranan utama sebagai pendidik karakter. Sebagai pendidik karakter tentunya guru pun haruslah menjadi guru yang berkarakter baik seperti; 1) Memiliki pengetahuan keagamaan yang luas dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari secara aktif, 2) Bersih jasmani dan rohani, 3) Pemaaf, penyabar, dan jujur, 4) Berlaku adil terhadap peserta didik dan semua stakeholders pendidikan, 5) Mempunyai watak dan sifat ketuhanan (robbaniyah) yang tercermin dalam pola pikir, ucapan dan tingkah laku, 6) Meningkatkan kualitas keilmuan secara berkelanjutan, 7) Tegas bertindak, profesional, dan proporsional, 8) Tanggap terhadap berbagai kondisi yang mungkin dapat mempengaruhi jiwa, keyakinan, dan pola pikir peserta didik; dan 9) Menumbuhkan kesadaran diri sebagai penasihat.
2. Saran
                Pendidikan karakter mempunyai peranan yang sangat penting bagi nasib sebuah bangsa di masa yang akan datang oleh karena itu masalah pendidikan karakter diharapkan menjadi perhatian dan tanggung jawab semua stake holder pendidikan, apapun jenjang pendidikannya. Semua komponen pendidikan dapat berpartisipasi aktif dan menjadi teladan yang baik dalam menyukseskan pendidikan karakter. Selain itu agar revitalisasi dapat berjalan dengan lancar diperlukan tenaga pendidik yang betul-betul memiliki kompetensi yang unggul, tenaga pendidik yang berkarakter agar pendidikan karakter tidak hanya menjadi wacana saja melaikan sebagai upaya konkrit dalam pendidikan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas SDM di tengah era modernisasi.


DAFTAR RUJUKAN

Arsyad, Azhar, 2011.” Strategi dan Implementasi Pendidikan Karakter Bangsa di Perguruan Tinggi.”Makalah disajikan pada ACIS ke-11.
Azra, Azzumardi, 2012. Paradigma Baru Pendidikan Nasional Rekonstruksi dan Demokratisasi. Jakarta: Kompas.
Ghede, Raka, 2011. Pendidikan Membangun Karakter. Bandung.
Jalaludin 2011.”Menggali Nilai-nilai Kearifan Lokal Sumatera Selatan untuk Pengayaan Pendidikan Karakter” Makalah disampaikan pada Rapat Koordinasi Dewan Pendidikan Sumsel.
Kementerian Pendidikan Nasional, Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum dan Perbukuan 2011. Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter. Jakarta.
Lickona, Thomas. 2013. Pendidikan Karakter Panduan Lengkap Mendidik Siswa Menjadi Pintar dan Baik. Bandung: Nusamedia.
Muslich, Masnur, 2011. Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta: Bumi Aksara.
Nofrizal, Nawawi, 2011. ”Pendidikan Karakter dengan Pendekatan Nilai-nilai Keagamaan” Makalah disajikan pada semiloka pendidikan karakter bangsa: Palembang.
PP Muhammadiyah-Revitalisasi Visi dan Karakter Bangsa: 2009.
Sirozi, Muhammad, 2011.”Mengefektifkan Pendidikan Karakter” Makalah disajikan pada semiloka pendidikan karakter bangsa di Palembang.







PENGUMUMAN

Rabu, 05 Agustus 2015

DIBERITAHUKAN KEPADA SELURUH MAHASISWA YANG AKAN MENGIKUTI UJIAN SKRIPSI BAHWA PRIODE UJIAN SKRIPSI AKAN DIBUKA PADA BULAN AGUSTUS 2015.
BAGI SUDAH MENDAFTAR HARAP SEGERA MELAKUKAN REGISTRASI ULANG PADA SEMESTER AKHIR.

TERIMA KASIH

Sejarah Indonesia 2

Kamis, 30 Juli 2015

DAFTAR HADIR DAN NILAI UJIAN AKHIR SEMESTER GENAP
TAHUN AKADEMIK 2014/2015










Mata Kuliah : SEJARAH INDONESIA 2



Jurusan/Progran Studi : Pendidikan IPS





Semester : VI






Dosen Penguji : Ira Miyarni S, M. Hum
No Nama Mahasiswa NPM  H   T  M S NA Huruf
35 YULI ATIKA WULANDARI 3014030 9,2 8 4,35 8,5 7,23 B
36 DEKA PREKA YURI APRIANSYAH 3014031 6,4 5,5 7 5,1 5,88 C
37 TINI APRIYANTI 3014032 8,7 7,5 2,5 5,75 5,42 D
38 DWI NOVITA 3014033 10 8,5 8,5 6,9 8,01 A
39 WIWIK SUMBOGO 3014034 10 8,5 5 5 6,20 C
40 ERMA FITRI YANTI 3014035 10 8,5 5,2 5,1 6,30 C
41 ROHANA 3014036 10 8,5 9 9,2 9,08 A
42 SUSIANA 3014037 9,2 8 3,65 8,3 6,94 B
43 HAYANI ALVINI 3014038 9,2 8 9,85 6,2 7,96 B
44 FENDRI IRWAN 3014039 10 8,5 3,8 9,2 7,52 B
45 YONGKI ISKANDAR 3014041 10 8,5 6 6,15 6,96 B
46 MELISA AGUSTINI 3014042 7,8 7 2,5 5,9 5,29 D
47 RIZAL 3014043 10 8,5 9 9,3 9,12 A
48 JULIA RAHMAWATI 3014044 9,2 8 6 9,3 8,04 A
49 M DAVID FIKRAM 3014045 8,5 7,5 6,5 7,65 7,36 B
50 AGNESTIA PRATIWI 3014046 9,4 8 4,5 5,3 6,01 C
51 NOVITA SARI  3014047 9,4 8 4,35 6,1 6,29 C
52 ADE IRFAN  3014048 9,4 8 2,45 8,5 6,68 B
53 BELINA PASRIANA 3014049 10 8,5 6 8,05 7,72 B

Breaking News




Kejadian aneh terjadi  di negara Palestina.. Badai gurun yang bertiup teramat kencang di Jalur Gaza telah merobohkan ratusan tenda militer pasukan penjaga perdamaian disana. Ketika angin badai reda, pasukan Amerika Serikat (AS) kaget melihat beberapa tenda tidak roboh. Setelah diteliti, tenda yang kokoh dan tidak roboh tersebut , ternyata miliki pasukan perdamaian PBB asal Indonesia. Para petinggi militer pasukan perdamaian bermaksuk akan meneliti kenapa tenda pasukan asal Indonesia tidak roboh. Proses penelitian dimulai dari tekstur tanah, tiang penyanggah tenda, parasut ataupun kain tenda. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa tenda-tenda tersebut tidak jauh berbeda dengan tenda pasukan lain.. inilah yang menjadi pertanyaan besar para petinggi militer tersebut. Mereka bertanya pada militer Indonesia kenapa tenda kalian tidak roboh??? Kemudian militer Indonesia menyuruh pasukan PBB tersebut melihat merk tenda mereka. Tenda Indonesia terpampang dengan jelas “Tenda ini disponsori oleh Jamu Tolak Angin”.....serius banget membacanya>>>>

Selingan Humor

Rabu, 29 Juli 2015



KUMPULAN CERITA ABU NAWAS
Hadiah Bagi Tebakan Jitu
Baginda Raja Harun Al Rasyid kelihatan murung. Semua menterinya tidak ada yang sanggup menemukan jawaban dari dua pertanyaan Baginda. Bahkan para penasihat kerajaan pun merasa tidak mampu memberi penjelasan yang memuaskan Baginda. Padahal Baginda sendiri ingin mengetahui jawaban yang sebenarnya. Mungkin karena amat penasaran, para penasihat Baginda menyarankan agar Abu Nawas saja yang memecahkan dua teka-teki yang membingungkan itu. Tidak begitu lama Abu Nawas dihadapkan. Baginda mengatakan bahwa akhirakhir ini ia sulit tidur karena diganggu oleh keingintahuan menyingkap dua rahasia alam.
"Tuanku yang mulia, sebenarnya rahasia alam yang manakah yang Paduka maksudkan?" tanya Abu Nawas ingin tahu. "Aku memanggilmu untuk menemukan jawaban dari dua teka-teki yang selama ini menggoda pikiranku." Kata Baginda. "Bolehkah hamba mengetahui kedua teka-teki itu wahai Paduka junjungan hamba."
"Yang pertama, di manakah sebenarnya batas jagat raya ciptaan Tuhan kita?"
tanya Baginda.
"Di dalam pikiran, wahai Paduka yang mulia." jawab Abu Nawas tanpa sedikit pun perasaan ragu, "Tuanku yang mulia," lanjut Abu Nawas ’ketidakterbatasan itu ada karena adanya keterbatasan. Dan keterbatasan itu
ditanamkan oleh Tuhan di dalam otak manusia. Dari itu manusia tidak akan pernah tahu di mana batas jagat raya ini. Sesuatu yang terbatas tentu tak akan mampu mengukur sesuatu yang tidak terbatas."
Baginda mulai tersenyum karena merasa puas mendengar penjelasan Abu Nawas yang masuk akal. Kemudian Baginda melanjutkan teka-teki yang kedua.
"Wahai Abu Nawas, manakah yang lebih banyak jumlahnya : bintang-bintang di langit ataukah ikan-ikan di laut?"
"Ikan-ikan di laut." jawab Abu Nawas dengan tangkas.
"Bagaimana kau bisa langsung memutuskan begitu. Apakah engkau pernah menghitung jumlah mereka?" tanya
Baginda heran.
"Paduka yang mulia, bukankah kita semua tahu bahwa ikan-ikan itu setiap hari ditangkapi dalam jumlah besar, namun begitu jumlah mereka tetap banyak seolah-olah tidak pernah berkurang karena saking banyaknya. Sementara bintang-bintang itu tidak pernah rontok, jumlah mereka juga banyak." Jawab Abu Nawas meyakinkan.

Seketika itu rasa penasaran yang selama ini menghantui Baginda sirna tak berbekas. Baginda Raja Harun Al Rasyid memberi hadiah Abu Nawas dan istrinya uang yang cukup banyak. Tidak seperti biasa, hari itu Baginda tiba-tiba ingin menyamar menjadi rakyat biasa. Beliau ingin menyaksikan kehidupan di luar istana tanpa sepengetahuan siapa pun agar lebih leluasa bergerak. Baginda mulai keluar istana dengan pakaian yang amat sederhana layaknya seperti rakyat jelata. Di sebuah perkampungan beliau melihat beberapa orang berkumpul. Setelah Baginda mendekat, ternyata seorang ulama sedang menyampaikan kuliah tentang alam barzah. Tiba-tiba ada seorang yang datang dan bergabung di situ, la bertanya kepada ulama itu. "Kami menyaksikan orang kafir pada suatu waktu dan mengintip kuburnya, tetapi kami tiada mendengar mereka berteriak dan tidak pula melihat penyiksaan-penyiksaan yang katanya sedang dialaminya. Maka bagaimana cara membenarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang dilihat mata?" Ulama itu berpikir sejenak kemudian ia berkata,
"Untuk mengetahui yang demikian itu harus dengan panca indra yang lain.
Ingatkah kamu dengan orang yang sedang tidur? Dia kadangkala bermimpi dalam tidurnya digigit ular, diganggu dan sebagainya. la juga merasa sakit dan takut ketika itu bahkan memekik dan keringat bercucuran pada keningnya. La merasakan hal semacam itu seperti ketika tidak tidur. Sedangkan engkau yang duduk di dekatnya menyaksikan keadaannya seolah-olah tidak ada apa-apa. Padahal apa yang dilihat serta dialaminya adalah dikelilirigi ular-ular. Maka jikamasalah mimpi yang remeh saja sudah tidak mampu mata lahir melihatnya, mungkinkah engkau bisa melihat apa yang terjadi di alam barzah?"

Baginda Raja terkesan dengan penjelasan ulama itu. Baginda masih ikut mendengarkan kuliah itu. Kini ulama itu melanjutkan kuliahnya tentang alam akhirat. Dikatakan bahwa di surga tersedia hal-hal yang amat disukai nafsu, termasuk benda-benda. Salah satu benda-benda itu adalah mahkota yang amat luar biasa indahnya. Tak ada yang lebih indah dari barang-barang di surga karena barang-barang itu tercipta dari cahaya. Saking ihdahnya maka satu mahkota jauh lebih bagus dari dunia dan isinya. Baginda makin terkesan. Beliau pulang kembali ke istana.Baginda sudah tidak sabar ingin menguji kemampuan Abu Nawas. Abu Nawas dipanggil: Setelah menghadap Bagiri "Aku menginginkan engkau sekarang juga berangkat ke surga kemudian bawakan aku sebuah mahkota surga yang katanya tercipta dari cahaya itu. Apakah engkau sanggup Abu Nawas?" "Sanggup Paduka yang mulia." kata Abu Nawas langsung menyanggupi tugas yang mustahil dilaksanakan itu. "Tetapi Baginda harus menyanggupi pula satu sarat yang akan hamba ajukan."
"Sebutkan sarat itu." kata Baginda Raja.
"Hamba mohon Baginda menyediakan pintunya agar hamba bisa memasukinya."
"Pintu apa?" tanya Baginda belum mengerti. Pintu alam akhirat." jawab Abu Nawas.
"Apa itu?" tanya Baginda ingin tahu.
"Kiamat, wahai Padukayang mulia. Masing-masing alam mempunyai pintu. Pintu alam dunia adalah liang
peranakan ibu. Pintu alam barzah adalah kematian. Dan pintu alam akhirat adalah kiamat. Surga berada di alam akhirat. Bila Baginda masih tetap menghendaki hamba mengambilkan sebuah mahkota di surga, maka dunia harus kiamat teriebih dahulu." Mendengar penjetasan Abu Nawas Baginda Raja terdiam.
Di sela-sela kebingungan Baginda Raja Harun Al Rasyid, Abu Nawas bertanya lagi,

Cerita humor: Abunawas Pengawal Raja
Alkisah, Abunawas bertugas menjadi pengawal raja, kemanapun Raja pergi Abunawas selalu ada didekatnya . Raja membuat Undang Undang kebersihan lingkungan, yang pada salah satu fasalnya berbunyi, Dilarang berak di sungai kecuali Raja atau seijin Raja, pelanggaran atas fasal ini adalah hukuman mati.
Suatu hari Raja mengajak Abunawas berburu ke hutan, ndilalah Raja kebelet berak,
karena di hutan maka Raja berak di sungai yang airnya mengalir ke arah utara.
Raja berak di suatu tempat, eee Abunawas ikut berak juga di sebelah selatan dari Raja, begitu Raja melihat ada kotoran lain selain kotoran nya, raja marah, dan diketahui yang berak adalah Abunawas . Abunawas dibawa ke pengadilan, Abunawas divonis hukuman mati, sebelum hukuman dilaksanakan, Abunawas diberi kesempatan membela diri, kata Abunawas "Raja yang mulia, aku rela dihukum mati, tapi aku akan sampaikan alasanku kenapa aku ikut berak bersama raja saat itu, itu adalah bukti kesetiaanku pada paduka raja, karena sampai kotoran Rajapun harus aku kawal dengan kootoranku, itulah pembelaanku dan alasanku Raja. Hukumlah aku." Abunawas yang divonis mati, diampuni dan malah diberi hadiah rumah dan perahu kecil untuk tempat kotoran nya mengawal kotoran raja.

Ibu Sejati
Kisah ini mirip dengan kejadian pada masa Nabi Sulaiman ketika masih muda.
Entah sudah berapa hari kasus seorang bayi yang diakui oleh dua orang ibu yang sama-sama ingin memiliki anak.
Hakim rupanya mengalami kesulitan memutuskan dan menentukan perempuan yang mana sebenarnya yang menjadi ibu bayi itu. Karena kasus berlarut-larut, maka terpaksa hakim menghadap Baginda Raja untuk minta bantuan. Baginda pun turun tangan. Baginda memakai taktik rayuan. Baginda berpendapat mungkin dengan cara-cara yang amat halus salah satu, wanita itu ada yang mau mengalah. Tetapi kebijaksanaan Baginda Raja Harun Al Rasyid justru membuat kedua perempuan makin mati-matian saling mengaku bahwa bayi itu adalah anaknya. Baginda berputus asa. Mengingat tak ada cara-cara lain lagi yang bisa diterapkan Baginda memanggil Abu Nawas. Abu Nawas hadir menggantikan hakim. Abu Nawas tidak mau menjatuhkan putusan pada hari itu melainkan menunda sampai hari berikutnya. Semua yang hadir yakin Abu Nawas pasti sedang mencari akal seperti yang biasa dilakukan. Padahal
penundaan itu hanya disebabkan algojo tidak ada di tempat. Keesokan hari sidang pengadilan diteruskan lagi. Abu Nawas memanggrl algojo dengan pedang di tangan. Abu Nawas memerintahkan agar bayi itu diletakkan di atas meja. "Apa yang akan kau perbuat terhadap bayi itu?" kata kedua perempuan itu saling memandang. Kemudian Abu Nawas melanjutkan dialog. "Sebelum saya mengambil tindakan apakah salah satu dari kalian bersedia mengalah dan menyerahkan bayi itu kepada yang memang berhak memilikinya?"
"Tidak, bayi itu adalah anakku." kata kedua perempuan itu serentak.

"Baiklah, kalau kalian memang sungguh-sungguh sama menginginkan bayi itu dan tidak ada yang mau mengalah maka saya terpaksa membelah bayi itu menjadi dua sama rata." kata Abu Nawas mengancam. Perempuan pertama girang bukan kepalang, sedangkan perempuan kedua menjerit-jerit histeris. "Jangan, tolongjangan dibelah bayi itu. Biarlah aku rela bayi itu seutuhnya diserahkan kepada perempuan itu." kata perempuan kedua. Abu Nawas tersenyum lega. Sekarang topeng mereka sudah terbuka. Abu Nawas segera mengambil bayi itu dan langsurig menyerahkan kepada perempuan kedua.

Abu Nawas minta agar perempuan pertama dihukum sesuai dengan
perbuatannya. Karena tak ada ibu yang tega menyaksikan anaknya disembelih. Apalagi di depan mata. Baginda Raja merasa puas terhadap keputusan Abu Nawas. Dan .sebagai rasa terima kasih, Baginda menawari Abu Nawas menjadi penasehat hakim kerajaan. Tetapi Abu Nawas menolak. la lebih senang menjadi rakyat biasa.
Pekerjaan Yang Mustahil
Baginda baru saja membaca kitab tentang kehebatan Raja Sulaiman yang mampu memerintahkan, para jin memindahkan singgasana Ratu Bilqis di dekat istananya. Baginda tiba-tiba merasa tertarik. Hatinya mulai tergelitik untuk melakukan hal yang sama. Mendadak beliau ingin istananya dipindahkan ke atas gunung agar bisa lebih leluasa menikmati pemandangan di sekitar. Dan bukankah hal itu tidak mustahil bisa dilakukan karena ada Abu Nawas yang amat cerdik di negerinya. Abu Nawas segera dipanggil untuk menghadap Baginda Raja Harun Al Rasyid. Setelah Abu Nawas dihadapkan, Baginda bersabda,
"Sanggupkah engkau memindahkan istanaku ke atas gunung agar aku lebih leluasa melihat negeriku?" tanya Baginda.

Abu Nawas tidak langsung menjawab. la berpikir sejenak hingga keningnya berkerut. Tidak mungkin menolak perintah Baginda kecuali kalau memang ingin dihukum. Akhirnya Abu Nawas terpaksa menyanggupi proyek raksasa itu. Ada satu lagi permintaan dari Baginda, pekerjaan itu harus selesai hanya dalam waktu sebulan. Abu Nawas pulang dengan hati masgul. Setiap malam ia hanya berteman dengan rembulan dan bintang-bintang. Hari-hari dilewati dengan kegundahan. Tak ada hari yang lebih berat dalam hidup Abu Nawas kecuali hari-hari ini.Tetapi pada hari kesembilan ia tidak lagi merasa gundah gulana. Keesokan harinya Abu Nawas menuju istana. la menghadap Baginda untuk membahas pemindahan istana. Dengan senang hati Baginda akan mendengarkan, apa yang diinginkan Abu Nawas.
"Ampun Tuariku, hamba datang ke sini hanya untuk mengajukan usul untuk memperlancar pekerjaan hamba nanti." kata Abu Nawas.
"Apa usul itu?"

"Hamba akan memindahkan istana Paduka yang mulia tepat pada Hari Raya Idul Qurban yang kebetulan hanya kurang dua puluh hari lagi."
"Kalau hanya usulmu, baiklah." kata Baginda.
"Satu lagi Baginda….. " Abu Nawas menambahkan.
"Apa lagi?" tanya Baginda.
"Hamba mohon Baginda menyembelih sepuluh ekor sapi yang gemuk untuk dibagikan langsung kepada para fakir miskin." kata Abu Nawas.
"Usulmu kuterima." kata Baginda menyetujui.Abu Nawas pulang dengan perasaan riang gembira. Kini tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Toh nanti bila waktunya sudah tiba, ia pasti akan dengan mudah memindahkan istana Baginda Raja. Jangankan hanya memindahkan ke puncak gunung, ke dasar samudera pun Abu Nawas sanggup.
Desas-desus mulai tersebar ke seluruh pelosok negeri. Hampir semua orang harap-harap cemas. Tetapi sebagian besar rakyat merasa yakin atas kemampuan Abu Nawas. Karena selama ini Abu Nawas belum pernah gagal

melaksanakan tugas-tugas aneh yang dibebankan di atas pundaknya. Namun ada beberapa orang yang meragukan keberhasilan Abu Nawas kali ini. Saat-saat yang dinanti-nantikan tiba. Rakyat berbondong-bondong menuju lapangan untuk melakukan salat Hari Raya Idul Qurban. Dan seusai salat, sepuluh sapi sumbangan Baginda Raja disembelih lalu dimasak kemudian segera dibagikan kepada fakir miskin.
Kini giliran Abu Nawas yang harus melaksanakan tugas berat itu. Abu Nawas berjalan menuju istana diikuti oleh rakyat. Sesampai di depan istana Abu Nawas bertanya kepada Baginda Raja, "Ampun Tuanku yang mulia, apakah istana sudah tidak ada orangnya lagi?"
"Tidak ada." jawab Baginda Raja singkat.
Kemudian Abu Nawas berjalan beberapa langkah mendekati istana. la berdiri sambil memandangi istana. Abu Nawas berdiri mematung seolah-olah ada yang ditunggu. Benar. Baginda Raja akhirnya tidak sabar.
"Abu Nawas, mengapa engkau belum juga mengangkat istanaku?" tanya Baginda Raja.
"Hamba sudah siap sejak tadi Baginda." kata Abu Nawas.
"Apa maksudmu engkau sudah siap sejak tadi? Kalau engkau sudah siap. Lalu apa yang engkau tunggu?" tanya Baginda masih diliputi perasaan heran.
"Hamba menunggu istana Paduka yang mulia diangkat oleh seluruh rakyat yang hadir untuk diletakkan di atas pundak hamba. Setelah itu hamba tentu akan memindahkan istana Paduka yang mulia ke atas gunung sesuai dengan titah Paduka."
Baginda Raja Harun Al Rasyid terpana. Beliau tidak menyangka Abu Nawas masih bisa keluar dari lubang jarum.

Abu Nawas dan Kisah Enam Ekor Lembu yang Pandai Bicara
Pada suatu hari, Sultan Harun al-Rasyid memanggil Abu Nawas menghadap ke Istana. Kali ini Sultan ingin menguji kecerdikan Abu Nawas. Sesampainya di hadapan Sultan, Abu Nawaspun menyembah. Dan Sultan bertitah, “Hai, Abu Nawas, aku menginginkan enam ekor lembu berjenggot yang pandai bicara, bisakah engkau mendatangkan mereka dalam waktu seminggu? Kalau gagal, akan aku penggal lehermu.
“Baiklah, tuanku Syah Alam, hamba junjung tinggi titah tuanku.”
Semua punggawa istana yang hadir pada saat itu, berkata dalam hati, “Mampuslah kau Abu Nawas!”
Abu Nawas bermohon diri dan pulang ke rumah. Begitu sampai di rumah, ia duduk berdiam diri
merenungkan keinginan Sultan. Seharian ia tidak keluar rumah, sehingga membuat tetangga heran. Ia baru keluar rumah persis setelah seminggu kemudian, yaitu batas waktu yang diberikan Sultan kepadanya.
Ia segera menuju kerumunan orang banyak, lalu ujarnya, “Hai orang-orang muda, hari ini hari apa?”
Orang-orang yang menjawab benar akan dia lepaskan, tetapi orang-orang yang menjawab salah, akan ia tahan. Dan ternyata, tidak ada seorangpun yang menjawab dengan benar. Tak ayal, Abu Nawas pun marah-marah kepada mereka, “Begitu saja kok anggak bisa menjawab. Kalau begitu, mari kita menghadap Sultan Harun Al-Rasyid, untuk mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya.” Keesokan harinya, balairung istana Baghdad dipenuhi warga masyarakat yang ingin tahu kesanggupan Abu Nawas mambawa enam ekor Lembu berjenggot. Sampai di depan Sultan Harun Al-Rasyid, ia pun menghaturkan sembah dan duduk dengan khidmat.
Lalu, Sultan berkata, “Hai Abu Nawas, mana lembu berjenggot yang pandai bicara itu?”
Tanpa banyak bicara, Abu Nawas pun menunjuk keenam orang yang dibawanya itu, “Inilah mereka, tuanku Syah Alam.”
“Hai, Abu Nawas, apa yang kau tunjukkan kepadaku itu?”
“Ya, tuanku Syah Alam, tanyalah pada mereka hari apa sekarang,” jawab Abu Nawas.
Ketika Sultan bertanya, ternyata orang-orang itu memberikan jawaban berbeda-beda. Maka berujarlah Abu Nawas, “Jika mereka manusia, tentunya tahu hari ini hari apa. Apalagi jika tuanku menanyakan hari yang lain, akan tambah pusinglah mereka. Manusia atau hewan kah mereka ini? “Inilah lembu berjenggot yang pandai bicara itu, Tuanku.”
Sultan heran melihat Abu Nawas pandai melepaskan diri dari ancaman hukuman. Maka Sultan pun memberikan hadiah 5.000 dinar kepada Abu Nawas.

Abu Nawas dan Pengemis yang Kedinginan dalam Kolam
Ada seorang saudagar di Bagdad yang mempunyai sebuah kolam yang airnya terkenal sangat dingin. Konon tidak seorangpun yang tahan berendam didalamnya berlama-lama, apalagi hingga separuh malam.
“Siapa yang berani berendam semalam di kolamku, aku beri hadiah sepuluh ringgit,” kata saudagar itu. Ajakan tersebut mengundang banyak orang untuk mencobanya. Namun tidak ada yang tahan semalam, paling lama hanya mampu sampai sepertiga malam.
Pada suatu hari datang seorang pengemis kepadanya. “Maukah kamu berendam di dalam kolamku ini semalam? Jika kamu tahan aku beri hadiah sepuluh ringgit,” kata si saudagar.
“Baiklah akan kucoba,” jawab si pengemis. Kemudian dicelupkannya kedua tangan dan kakinya ke dalam kolam, memang air kolam itu dingin sekali. “Boleh juga,” katanya kemudian.
“Kalau begitu nanti malam kamu bisa berendam disitu,” kata si saudagar.
Menanti datangnya malam si pengemis pulang dulu ingin memberi tahu anak istrinya mengenai
rencana berendam di kolam itu.
“Istriku,” kata si pengemis sesampainya di rumah. “Bagaimana pendapatmu bila aku berendam
semalam di kolam saudagar itu untuk mendapat uang sepuluh ringgit? Kalau kamu setuju aku akan mencobanya.”
“Setuju,” jawab si istri, “Moga-moga Tuhan menguatkan badanmu.”
Kemudian pengemis itu kembali ke rumah saudagar. “Nanti malam jam delapan kamu boleh masuk ke kolamku dan boleh keluar jam enam pagi,” kata si saudagar, “Jika tahan akan ku bayar upahmu.” Setelah sampai waktunya masuklah si pengemis ke dalam kolam, hampir tengah malam ia kedinginan sampai tidak tahan lagi dan ingin keluar, tetapi karena mengharap uang upah sepuluh ringgit, ditahannya maksud itu sekuat tenaga. Ia kemudian berdoa kepada Tuhan agar airnya tidak terlalu dingin lagi. Ternyata doanya dikabulkan, ia tidak merasa kedinginan lagi. Kira-kira jam dua pagi anaknya datang menyusul. Ia khawatir jangan-jangan bapaknya mati kedinginan. Hatinya sangat gembira ketika dilihat bapaknya masih hidup. Kemudian ia menyalakan api di tepi kolam dan menunggu sampai pagi. Siang harinya pengemis itu bangkit dari kolam dan buru-buru menemui si saudagar untuk minta upahnya. Namun saudagar itu menolak membayar, “Aku tidak mau membayar, karena anakmu membuat api di tepi kolam, kamu pasti tidak kedinginan.”
Namun si pengemis tidak mau kalah, “Panas api itu tidak sampai ke badan saya, selain apinya jauh, saya kan berendam di air, masakan api bisa masuk ke dalam air?”
“Aku tetap tidak mau membayar upahmu,” kata saudagar itu ngotot. “Sekarang terserah kamu, mau melapor atau berkelahi denganku, aku tunggu.”
Dengan perasaan gondok pengemis itu pulang ke rumah, “Sudah kedinginan setengah mati, tidak dapat uang lagi,” pikirnya. Ia kemudian mengadukan penipuan itu kepada seorang hakim. Boro-boro pengaduannya di dengar, Hakim itu malahan membenarkan sikap sang saudagar. Lantas ia berusaha menemui orang-orang besar lainnya untuk diajak bicara, namun ia tetap disalahkan juga.
“Kemana lagi aku akan mengadukan nasibku ini,” kata si pengemis dengan nada putus asa. “Ya Allah, engkau jugalah yang tahu nasib hamba-Mu ini, mudah-mudahan tiap-tipa orang yang benar engkau menangkan.” Doanya dalam hati.
Ia pun berjalan mengikuti langkah kakinya dengan perasaan yang semakin dongkol. Dengan takdir Allah ia bertemu dengan Abu Nawas di sudut jalan.
“Hai, hamba Allah,” Tanya Abu Nawas, ketika melihat pengemis itu tampak sangat sedih. “mengapa anda kelihatan murung sekali? Padahal udara sedemikian cerah.”
“Memang benar hamba sedang dirundung malang,” kata si pengemis, lantas diceritakan musibah yang menimpa si pengemis sambil mengadukan nasibnya.
“Jangan sedih lagi,” kata Abu Nawas ringan. “Insyaallah aku dapat membantu menyelesaikan
masalahmu. Besok datanglah ke rumahku dan lihatlah caraku, niscaya kamu menang dengan izin
Allah.”
“Terima kasih banyak, anda bersedia menolongku,” kata si pengemis. Lantas keduanya berpisah. Abu Nawas tidak pulang ke rumah, melainkan menghadap Baginda Sultan di Istana. “Apa kabar, hai Abu Nawas?” sapa Baginda Sultan begitu melihat batang hidung Abu Nawas. “Ada masalah apa gerangan hari ini?”
“Kabar baik, ya Tuanku Syah Alam,” jawab Abu Nawas. “jika tidak keberatan patik silahkan baginda datang kerumah patik, sebab patik punya hajat.”
“Kapan aku mesti datang ke rumahmu?” tanya baginda Sultan.
“Hari Senin jam tujuh pagi, tuanku,” jawa Abu Nawas.
“Baiklah,” kata Sultan, aku pasti datang ke rumahmu.”
Begitu keluar dari Istana, Abu Nawas langsung ke rumah saudagar yang punya kolam, kemudian ke rumah tuan hakim dan pembesar-pembesar lainnya yang pernah dihubungi oleh si pengemis. Kepada mereka Abu Nawas menyampaikan undangan untuk datang kerumahnya senin depan.
Hari senin yang ditunggu, sejak jam tujuh pagi rumah Abu Nawas telah penuh dengan tamu yang
diundang, termasuk baginda Sultan. Mereka duduk di permadani yang sebelumnya telah di gelar oleh tuan rumah sesuai dengan pangkat dan kedudukan masing-masing. Setelah semuanya terkumpul, Abu Nawas mohon kepada sultan untuk pergi kebelakang rumah, ia kemudian menggantung sebuah periuk besar pada sebuah pohon, menjerangnya – menaruh di atas api.
Tunggu punya tunggu, Abu Nawas tidak tampak batang hidungnya, maka Sultan pun memanggil Abu Nawas, “kemana gerangan si Abu Nawas, sudah masakkah nasinya atau belum?” gerutu Sultan.
Rupanya gerutuan Sultan di dengar oleh Abu Nawas, ia pun menjawab, “Tunggulah sebentar lagi,
tuanku Syah Alam.”
Baginda pun diam, dan duduk kembali. Namun ketika matahari telah sampai ke ubun-ubun, ternyata Abu Nawas tak juga muncul dihadapan para tamu. Perut baginda yang buncit itu telah keroncongan.
“Hai Abu Nawas, bagaimana dengan masakanmu itu? Aku sudah lapar, kata Baginda.
“Sebentar lagi, ya Syah Alam,” sahut tuan rumah.
Baginda masih sabar, ia kemudian duduk kembali, tetapi ketika waktu dzuhur sudah hampir habis tak juga ada hidangan yang keluar, baginda tak sabar lagi, ia pun menyusul Abu Nawas dibagian belakang rumah, di ikuti tamu-tamu lainnya. Mereka mau tahu apa sesungguhnya yang dikerjakan tuan rumah, ternyata Abu Nawas sedang mengipa-ngipas api di tungkunya.
“Hai Abu Nawas, mengapa kamu membuat api di bawah pohon seperti itu? Tanga baginda Sultan. Abu Nawas pun bangkit, demi mendengar pernyataan baginda. “Ya tuanku Syah Alam, hamba sedang memasak nasi, sebentar lagi juga masak,” jawabnya.
“Menanak nasi?” tanya baginda, “Mana periuknya?”
“Ada, tuanku,” jawab Abu nawas sambil mengangkat mukanya ke atas.
“Ada?” tanya beginda keheranan. “Mana?” ia mendongakkan mukanya ke atas mengikuti gerak Abu Nawas, tampak di atas sana sebuah periuk besar bergantung jauh dari tanah.
“Hai, Abu Nawas, sudah gilakah kamu?” tanya Sultan. “Memasak nasi bukan begitu caranya, periuk di atas pohon, apinya di bawah, kamu tunggu sepuluh hari pun beras itu tidak bakalan jadi nasi.”
“Begini, Baginda,” Abu Nawas berusaha menjelaskan perbuatannya. “Ada seorang pengemis berjanji dengan seorang saudagar, pengemis itu disuruh berendam dalam kolam yang airnya sangat dingin dan akan diupah sepuluh ringgit jika mampu bertahan satu malam. Si pengemis setuju karena mengharap upah sepuluh ringgit dan berhasil melaksanakan janjinya. Tapi si saudagar tidak mau membayar, dengan alasan anak si pengemis membuat api di pinggir kolam.” Lalu semuanya diceritakan kepada Sultan lengkap dengan sikap tuan hakim dan para pembesar yang membenarkan sikap si saudagar.
“Itulah sebabnya patik berbuat seperti ini.”
“Boro-boro nasi itu akan matang,” kata Sultan, “Airnya saja tidak bakal panas, karena apinya terlalu jauh.”
“Demikian pula halnya si pengemis,” kata Abu Nawas lagi. “Ia di dalam air dan anaknya membuat api di tanah jauh dari pinggir kolam. Tetapi saudagar itu mengatakan bahwa si pengemis tidak berendam di air karena ada api di pinggir kolam, sehingga air kolam jadi hangat.”
Saudagar itu pucat mukanya. Ia tidak dapat membantah kata-kata Abu Nawas. Begitu pula para
pembesar itu, karena memang demikian halnya.
“Sekarang aku ambil keputusan begini,” kata Sultan. “Saudagar itu harus membayar si pengemis
seratus dirham dan di hukum selama satu bulan karena telah berbuat salah kepada orang miskin.
Hakim dan orang-orang pembesar di hukum empat hari karena berbuat tidak adil dan menyalahkan orang yang benar.”
Saat itu juga si pengemis memperoleh uangnya dari si saudagar. Setelah menyampaikan hormat kepada Sultan dan memberi salam kepada Abu Nawas, ia pun pulang dengan riangnya. Sultan kemudian memerintah mentrinya untuk memenjarakan saudagar dan para pembesar sebelum akhirnya kembali ke Istana dalam keadaan lapar dan dahaga.  Akan halnya Abu Nawas, ia pun sebenarnya perutnya keroncongan dan kehausan.


Abu Nawas dan Menteri yang Zalim
Di Negeri Baghdad dahulu kala ada seorang menteri yang dikenal sangat jahat perangainya,
sehingga ditakuti warganya. Ia tidak bisa melihat perempuan cantik, terutama istri orang, pasti
diambilnya. Apabila membeli suatu barang, ia tidak pernah mau membayar. Ihwal itu lama
kelamaan sampai juga ke telinga Abu Nawas sehingga membuat hatinya panas. Maka Abu Nawas pun pasang niat tidak akan meninggalkan daerah itu sebelum sang menteri menghembuskan nafas terakhir alias mati.

Kemudian Abu Nawas berangkat ke tempat menteri itu tinggal dan sengaja menyewa rumah yang berdekatan untuk melakukan investigasi. Setelah beberapa hari bergaul dengan penduduk di situ, ia pun kenal dengan sang menteri dan bahkan bersahabat baik. Begitu baiknya pendekatan yang dilakukan sampai-sampai menteri itu tidak bisa mencium rencana busuk Abu Nawas. Abu Nawas boleh masuk dan keluar rumah itu dengan bebas, sehingga ia tidak menaruh curiga sama sekali kepadanya. Di dalam rumah itu Abu Nawas melihat sebuah tiang gantungan yang digunakan untuk menggantung orang-orang yang bersalah kepada menteri itu. Cara menggantungnya pun dengan cara yang sadis, yaitu kaki di atas dan kepala di bawah. Dalam posisi demikian, orang itu dipukuli sampai mati.
“Dengan demikian memang betul berita-berta yang aku dengar tentang menteri ini,”
pikir Abu Nawas. “Nantikanlah, aku pasti akan membalas.”
“Hai orang muda,” kata Abu Nawas, kepada seorang pemuda tampan yang sedang menggiring seekor lembu gemuk. “Apakah lembu itu akan dijual?” Pertemuan itu terjadi ketika Abu Nawas berjalan-jalan di sebuah sudut desa itu.
“Lembu ini tidak dijual,” jawab si pemuda, “Karena ini warisan bapak hamba.”
“Lebih baik lembu itu dijual saja,” Abu Nawas mencoba merayu. “Kalau laku dengan harga tinggi, kamu bisa berdagang sehingga uang itu menjadi banyak.”
“Betul juga kata Tuan,” jawab si pemuda setelah berpikir sejenak. “Namun untuk menjualnya hamba harus berkonsultasi dengan ibu di rumah, kalau ibu setuju boleh tuan membelinya.”
“Itu akan lebih baik,” Ujar Abu Nawas. Sementara anak muda itu pulang, Abu Nawas memeras otak, ia akan berusaha memanfaatkan ketampanan wajah anak muda itu untuk melaksanakan rencananya.
“Hai menteriku, tunggulah bagianmu kelak,” kata Abu Nawas dalam hati dengan perasaan geram.
“Ibu setuju menjual lembu ini,” kata pemuda itu kepada Abu Nawas, setelah keduanya bertemu lagi.
“Bagus,” kata Abu Nawas, “Tetapi sebenarnya bukan aku yang akan membeli lembumu, melainkan menteri yang zalim itu. Oleh karena itu berikan harga yang pasti, sesudah itu kita membuat perjanjian dan kamu yang akan melaksanakannnya. “Setuju?” Tanya Abu Nawas. “Setuju!” jawab si pemuda.
“Giringlah lembumu itu ke kebun, dan tunggulah aku di sana,” kata Abu Nawas. “Aku akan ke rumah menteri itu dan setelah itu aku menemuimu.”
“Hai menteri, ada seorang pemuda yang akan menjual seekor lembu gemuk,” kata Abu Nawas. “Jika Anda tertarik, silahkan anda beli dengan harga yang pantas, tidak mahal, mari kita ke kebun itu.”
“Berapa harganya?” tanya si menteri begitu sampai di kebun. Ia sangat tertarik dan ingin segera
membelinya.
“Lima puluh dinar,” jawab si pemuda. “Boleh ditawar?” tanya si menteri. “Tidak bisa, karena lembu ini warisan bapak hamba,” jawab si pemuda.
“Baik, pasti kebayar harga itu,” ujar si menteri. Maka disodorkan ujung tali pengikat lembu kepada menteri, namun ketika ditarik ternyata kosong. Rupanya diam-diam Abu Nawas telah melepas binatang itu, namun karena harga telah disepakati, pemuda itu meminta bayarannya.
“Mana lembunya?” tanya si menteri. “Masa hanya talinya? Aku tidak sudi membayar.”
Keduanya pun berbantah-bantahan dengan sengitnya. “Aku minta bayarannya,” kata si pemuda. “Kalau tidak mau bayar, kembalikan lembuku.”
“Apa yang mesti kubayar, dan apa yang harus kukembalikan,” kilah si menteri.
“Cuma tali yang kau berikan kepadaku … Nih, ambillah, aku tidak butuh tali.”
“Kerjamu memang cuma menipu dan menganiaya orang!” kata si pemuda lagi. “Kamu memang zalim, mau makan darah orang kecil.”
Si menteri tidak menggubris lagi perkataan itu, ia berjalan pulang kerumahnya. Sementar si anak muda hatinya sangat sedih, lembu hilang, uang melayang. “Barangkali memang itulah nasibku. Apa boleh buat,” keluhnya.
Sudahkah kamu menerima pembayaran harga lembumu?” tanya Abu Nawas kepada anak muda pada malam harinya.
“Hamba diperdaya menteri itu,” jawab si pemuda dengan wajah nelangsa. “Lembu hilang, uang
melayang.”
“Coba ceritakan kata Abu Nawas. “Aku kira jual beli berjalan lancar sehingga aku cepat-cepat pergi karena ada urusan lain.”
Maka diceritakanlah kejadian itu dengan nada mendongkol. “Sialan menteri itu,” ujar si pemuda.
“Oh begitu, kata Abu Nawas. “Jangan sedih, Insya Allah aku akan membantu.” Kemudian Abu Nawas minta si pemuda bersedia melaksanakan rencana yang telah disusunnya untuk membunuh si menteri zalim itu.
Keesokan harinya jam tujuh malam seorang wanita cantik berhenti di depan rumah si menteri zalim, ia tampak membuang sesuatu yang dicabut dari kakinya.
“Hai Adinda, dari mana gerangan asalmu?” tiba-tiba muncul suara dari sudut yang
gelap. Suara itu ternyata milik menteri yang saat itu juga sedang berjalan-jalan di
depan rumahnya. Hatinya amat girang begitu melihat wajah cantik yang tiba-tiba
muncul di depan matanya.
“Hamba orang desa, tadi ketika berjalan bersama suami, kaki hamba tertusuk duri. Hamba terpaksa berhenti untuk menarik duri dari kaki, suami hamba tidak mau menunggu dan hamba ditinggal di sini.
Hamba tidak tahu jalan pulang ke rumah,” kata si perempuan itu dengan penuh iba, lalu ia pun
menangis.
“Jika Adinda mau, silahkan mampir ke rumah hamba sambil menunggu suami Adinda. Barangkali dia sekarang sedang mencari Adinda,” kata si menteri. “Jangan takut.”
“Hamba takut kepada istri dan pelayan-pelayan tuan,” kata perempuan muda itu.
“Kalau begitu, silahkan Adinda duduk di sini, Kanda akan menyuruh istri pergi ke rumah ibunya
bersama pelayan-pelayan itu,” kata si menteri. Maka sang menteri pun tergopoh-gopoh masuk ke
rumahnya.
“Hai Adinda, katanya, “Sekarang ini sebaiknya Adinda pergi ke rumah ibu karena sudah lama rasanya Adinda tidak kesana.” “Jika demikian kehendak Kakanda, baiklah hamba kesana,” jawab istri si menteri.
“Hai Adinda, kata si menteri kepada perempuan muda itu setelah rumah kosong. “Silahkan masuk ke rumah hamba, karena istri dan semua pelayan telah pergi.”
“Baiklah, katanya sambil mengikuti langkah si menteri. Di dalam rumah dilihatnya
tali gantungan seperti yang diceritakan Abu Nawas. Menteri itu mendorong si
perempuan muda ke kamar dan mengajak tidur, namun ia mencoba menolak sambil
merajuk.
“Sebelum kita tidur, cobalah Kakanda bergantung sebentar pada tali itu,” rayunya. “Seumur hidup hamba belum pernah melihat orang bergantung ditali.”
Karena terdorong oleh nafsu syahwat yang menggelora, permintaan itu dituruti si menteri. “Tolong Adinda pegang tali gantungan ini kuat-kuat, jangan dilepaskan,” katanya.
Menteri itu kemudian memasukkan badannya kedalam tali gantungan, setelah itu si perempuan
gadungan melepaskan tali yang dipegangnya sehingga badan si menteri menggantung dengan posisi kaki di atas dan kepala di bawah. Si perempuan pun mengeluarkan sebuah pentungan lalu memukul badan dan kepala si menteri zalim itu sambil berujar. “Hai menteri zalim, aku bukan perempuan, akulah pemilik lembu yang kau tipu, sekarang terimalah pembalasanku. Aku minta harga lembuku, ayo bayar… bayar” Bak – Bik – Buk… darah segar mengalir dari mulut, hidung dan telinga menteri itu, sehingga ia tidak sadarkan diri. “Mampuslah kau,” teriak si pemuda.
Mengira bahwa si menteri sudah mati, masuklah perempuan palsu itu ke dalam rumah, dan menjarah barang-barang yang ada, sesudah itu barulah ia pulang dengan menggondol harta kekayaan si menteri zalim Di tempat lain si istri menteri mendapat firasat buruk, hatinya berebar-debar keras. “Ada apa gerangan di rumahku?” pikirnya dalam hati, maka dengan bergegas pulanglah ia ke rumah.
Setiba di rumah ia menjerit-jerit histeris lantaran dilihatnya suaminya tergantung pingsan dengan kepala berdarah dan harta bendanya ludes. Ketika tali gantungan dilepas, ternyata suaminya masih bernafas, meski terengah-engah. Kemudian dipercikkan air mawar ke sekujur tubuhnya dan kepala menteri hingga siuman dan membuka matanya.
“Ya Kakanda……” ucap si istri sambil menangis meratapi nasib suaminya. “Kenapa Kanda bisa begini?”
Si menteri tidak bisa segera menjawab pertanyaan itu, tapi lambat laun setelah kesadarannya mulai pulih ia pun bisa menceritakan semua yang dialaminya. Setelah itu ia jatuh sakit.
Abu Nawas khawatir demi mendengar kabar itu, buru-buru ditemui si anak muda itu di rumahnya.
“Mengapa tidak kamu matikan dia?” tanya Abu Nawas. “Bukankah aku sudah pesan, jangan kamu tinggal sebelum dia mati. Sekarang sebaiknya kamu tambah penyakit menteri itu supaya mati.
“Bagaimana caranya?” tanya si pemuda, ia tidak kalah khawatir dengan Abu Nawas.
“Berpura-puralah menjadi dukun, karena saat ini menteri itu sedang mencari dukun, kata Abu Nawas.
“Selanjutnya usahakan dengan caramu sendiri agar rumah itu kosong, dan setelah kosong pukulilah menteri itu sampai mati, sebelum mati, jangan kamu tinggalkan dia.”
Esok harinya datanglah seorang kakek tua bertongkat ke rumah menteri itu, ia memakai jubah panjang dan serban putih dengan langkah terbungkuk-bungkuk.
“Tuan, tanya seorang pelayan menteri itu, siapakah tuan ini?
“Aku ini dukun,” jawabnya, “Kenapa kamu menyapa aku di tengah jalan seperti ini, tidak sopan berbuat seperti itu kepada orang tua.”
“Maaf,” kata si pelayan, “Hamba pelayan menteri, beliau saat ini sedang sakit dan perlu dukun, jika tuan suka, silahkan masuk ke rumahnya.” “Ya tuan dukun, obatilah hamba ini,” kata si menteri itu setelah dukun palsu itu duduk di samping pembaringannya. “Hamba sakit…” lama-kelamaan suaranya hilang.
“Moga-moga hamba bisa mengobati tuan,” jawab si dukun. “Tapi bisakah pelayan-pelayan itu disuruh mencari daun kayu lengkap dengan akarnya. Daun itu memang sulit dicari tetapi banyak gunanya untuk penyembuhan tuan.”
Menteri itu kemudian menyuruh tiga orang pelayan untuk memenuhi permintaan dukun. Tak lama kemudian dukun itu berkata lagi, “Maaf, hamba lupa, adalagi daun kayu yang lain yang hamba butuhkan. Tolong pelayan yang lain disuruh mencari.” Maka menteri itu pun menyuruh pelayan lainnya sehingga rumah itu kosong karena anak dan istri menteri itu sabelumnya sudah pergi ke luar rumah.
Setelah yakin bahwa rumah itu kosong, diambil sebuah pentungan dan dipukulnya sekujur badan menteri itu sampai babak belur dan mengeluarkan darah dari hidung, telinga dan mulunya. “Hai menteri, aku bukan dukun, tapi pemilik lembu yang kamu tipu. Mana bayaranmu!” katanya.
Menteri itu pingsan dan tidak bernafas lagi. Dikiranya si menteri sudah mati, cepat-cepat dukun itu pergi, karena khawatir para pelayan itu segera kembali. “Puas hatiku karena menteri itu sudah mati,” pikir si dukun palsu.
Kira-kira satu jam kemudian para pelayan itu kembali dengan tangan hampa diikuti oleh istri menteri.
Mereka cemas melihat tuannya tergeletak dan dukun itu tidak ada lagi. Lalu istri menteri itu menyiram badan suaminya dengan air mawar yang diminumkan seteguk ke mulutnya. Tak lama kemudian menteri itu sadar namun belum bisa bicara.
“Ya istriku, orang itu bukan dukun, tetapi yang punya lembu itu juga,” kata si menteri
setelah sadar. “Panggil orang-orang alim dan kabarkan kepada mereka bahwa aku
sudah mati. Masukkan badanku ke dalam keranda bersama sekerat batang pisang
yang dibungkus kain putih sebagaimana mayat laiknya. Tetapi yang dimasukkan ke
liang lahat nanti adalah batang pisang tadi, sedang badanku tetap dalam keranda
dan dibawa pulang kembali. Dengan demikian orang yang punya lembu itu tidak
akan datang lagi kemari. Kapan-kapan bila aku sembuh akan kucari orang itu untuk
membuat perhitungan terakhir.”
Semua pesan itu dikerjakan oleh istri menteri itu dengan baik. Tetap dasar Abu Nawas, ia berhasil mencium akal busuk itu. Maka ditemuinya si pemilik lembu. “Kenapa tidak kamu pukul sampai mati menteri itu?” bertanya Abu Nawas.
“Orang itu sudah mati,” kata si pemuda. “Ia tidak bergerak dan tidak bernafas lagi, karena darah keluar dari hidung dan telinganya.”
“Saat ini menteri itu masih hidup tapi pura-pura mati,” kata Abu Nawas. Lalu diceritakannya rencana menteri tadi dan rencananya sendiri agar menteri itu benar-benart mati, sebab jika ia masih hidup juga aku tidak dapat menjamin nasibmu kelak,”
“Hai saudara, maukan Anda aku bayar untuk menaiki kuda yang cepat larinya?” kata Abu Nawas
kepada seorang joki yang berbadan tinggi tegap, dekatilah kuburan menteri itu, jika jenazah sudah sampai ke liang kubur, berteriaklah keras-keras, “Akulah pemilik lembu”, kemudian paculah kudamu sekencang-kencangnya. “Setuju?” “Nah, ini uangnya, pergilah.”
Esok harinya iring-iringan jenazah menteri itu berangkat dari rumah lengkat dengan orang besar, orang alim, sanak keluarga, dan sahabat almarhum. Begitu sampai dekat liang lahat, terdengar teriakan
“Akulah pemilik lembu”.
Suasana di kuburan menjadi kacau, karena para pelayat kemudian berlarian ingin mengejar orang yang berteriak tadi. Namun apa lacur, orang yang dikejar sudah kabur dengan kudanya, sementara keranda ditinggal tidak terurus. Pada saat itulah si pemuda pemilik lembu yang sebenarnya muncul.
Rupanya ia ikut dalam barisan pelayat. “Hai menteri, akulah pemilik lembu yang kamu tipu, sekarang saatnya kamu harus membayar lunas utangmu. Tidak akan kubiarkan nyawamu tetap bersarang di badanmu.” Lalu di pukulnya menteri itu sekuat tenaga hingga benar-benar mati. Setelah itu ia pulang ke rumah.
Akan halnya joki tadi, akhirnya ia terkejar dan tertangkap dan kemudian dibawa ke kuburan menteri.
Upacara pemakaman yang tadinya hanya pura-pura menjadi upacara sungguhan karena menteri yang diusung di dalam keranda itu benar-benar mati, badannya hancur dan tidak bernafas lagi tanpa diketahui siapa pelakunya. Hal itu mengagetkan seluruh pelayat.
Setelah itu orang-orang pulang ke rumah masing-masing dengan hati masygul dan heran. Sedangkan si joki dibawa oleh anak-anak menteri kerumahnya. “Apa sebab kamu berteriak dan mengaku sebagai orang yang punya lembu?” tanya mereka.
“Aku tidak tahu sebabnya, aku hanya diupah untuk berteriak seperti itu,” jawab si joki.
“Siapa yang mengupah kamu?” Tanya anak-anak meteri. “Abu Nawas,” jawab si joki.
“Hai Abu Nawas,” kata anak menteri setelah menemukan Abu Nawas, kenapa kamu mengupah untuk berteriak seperti itu dan menganiaya bapakku?”
“Menganiaya bapakmu?” Abu Nawas balik bertanya. “Bertanyalah yang benar.”
“Engkau suruh orang itu berteriak mengaku sebagai orang yang punya lembu, maka kami kejar dia, karena yang menyebabkan bapakku sakit tiada lain adalah orang yang punya lembu, bukan dari Allah.
“Oh begitu,” kata Abu Nawas sambil senyum kecil. “Jadi kamu tidak tahu bahwa orang yang punya lembu itu sudah ditakdirkan Allah untuk berbuat demikian karena bapakmu terlalu zalim, penipu, penganiaya, pengisap darah orang kecil, dan sebagainya. Rasanya tidak usah diperpanjang masalah ini, yang akan membuatmu malu besar, lebih baik kamu doakan saja agar bapakmu diampuni Allah.”
Anak menteri itu terdiam, sebab ia tahu semua perbuatan bapaknya. “Barangkali memang demikian takdir bapakku,” pikirnya dalam hati sambil berjalan pulang ke rumah.
Warga kota itu – termasuk orang yang punya lembu – merasa senang dan tenang hatinya karena tidak ada lagi orang yang akan berbuat zalim.
Sedangkan Abu Nawas segera kembali ke rumahnya. “Niatku sudah terlaksana,” pikirnya. “Siapa tahu barangkali Khalifah Harun Al-Rasyid sedang menanti kedatanganku ke istana beliau, lagi pula aku juga sudah sangat rindu kepada Baginda Sultan.”

Cara Abu Nawas Merayu Tuhan
Tak selamanya Abu Nawas bersikap konyol. Kadang-kadang timbul kedalaman hatinya yang
merupakan bukti kesufian dirinya. Bila sedang dalam kesempatan mengajar, ia akan memberikan jawaban-jawaban yang berbobot sekalipun ia tetap menyampaikannya dengan ringan.
Seorang murid Abu Nawas ada yang sering mengajukan macam-macam pertanyaan. Tak jarang ia juga mengomentari ucapan-ucapan Abu Nawas jika sedang memperbincangkan sesuatu. Ini terjadi saat Abu Nawas menerima tiga orang tamu yang mengajukan beberapa pertanyaan kepada Abu Nawas.
“Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” ujar orang yang pertama.
“Orang yang mengerjakan dosa kecil,” jawab Abu Nawas.
“Mengapa begitu,” kata orang pertama mengejar.
“Sebab dosa kecil lebih mudah diampuni oleh Allah,” ujar Abu Nawas. Orang pertama itupun manggutmanggut sangat puas dengan jawaban Abu Nawas.
Giliran orang kedua maju. Ia ternyata mengajukan pertanyaan yang sama, “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” tanyanya.
“Yang utama adalah orang yang tidak mengerjakan keduanya,” ujar Abu Nawas.
“Mengapa demikian?” tanya orang kedua lagi.
“Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu pengampunan Allah sudah tidak diperlukan lagi,” ujar Abu Nawas santai. Orang kedua itupun manggut-manggut menerima jawaban Abu Nawas dalam hatinya.
Orang ketiga pun maju, pertanyaannya pun juga seratus persen sama. “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” tanyanya. “Orang yang mengerjakan dosa besar lebih utama,” ujar Abu Nawas.
“Mengapa bisa begitu?” tanya orang ktiga itu lagi.
“Sebab pengampunan Allah kepada hamba-Nya sebanding dengan besarnya dosa hamba-Nya,” ujar Abu Nawas kalem. Orang ketiga itupun merasa puas argumen tersebut. Ketiga orang itupun lalu beranjak pergi.
Si murid yang suka bertanya kontan berujar mendengar kejadian itu. “Mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan tiga jawaban yang berbeda,” katanya tidak mengerti.
Abu Nawas tersenyum. “Manusia itu terbagi atas tiga tingkatan, tingkatan mata, tingkatan otak dan tingkatan hati,” jawab Abu Nawas.
“Apakah tingkatan mata itu?” tanya si murid.
“Seorang anak kecil yang melihat bintang di langit, ia akan menyebut bintang itu
kecil karena itulah yang tampak dimatanya,” jawab Abu Nawas memberi perumpamaan.
“Lalu apakah tingkatan otak itu?” tanya si murid lagi.
“Orang pandai yang melihat bintang di langit, ia akan mengatakan bahwa bintang itu besar karena ia memiliki pengetahuan,” jawab Abu Nawas.
“Dan apakah tingkatan hati itu?” Tanya si murid lagi.
“Orang pandai dan paham yang melihat bintang di langit, ia akan tetap mengatakan bahwa bintang itu kecil sekalipun ia tahu yang sebenarnya bintang itu besar, sebab baginya tak ada satupun di dunia ini yang lebih besar dari Allah SWT,” jawab Abu Nawas sambil tersenyum.
Si murid pun mafhum. Ia lalu mengerti mengapa satu pertanyaan bisa mendatangkan jawaban yang berbeda-beda. Tapi si murid itu bertanya lagi.
“Wahai guruku, mungkinkah manusia itu menipu Tuhan?” tanyanya.
“Mungkin,” jawab Abu Nawas santai menerima pertanyaan aneh itu.
“Bagaimana caranya?” tanya si murid lagi.
“Manusia bisa menipu Tuhan dengan merayu-Nya melalui pujian dan doa,” ujar Abu Nawas.
“Kalau begitu, ajarilah aku doa itu, wahai guru,” ujar si murid antusias.
“Doa itu adalah, “Ialahi lastu lil firdausi ahla, Wala Aqwa alannaril Jahimi, fahabli
taubatan waghfir dzunubi, fa innaka ghafiruz dzambil adzimi.” (Wahai Tuhanku, aku
tidak pantas menjadi penghuni surga, tapi aku tidak kuat menahan panasnya api
neraka. Sebab itulah terimalah tobatku dan ampunilah segala dosa-dosaku,
sesungguhnya Kau lah Dzat yang mengampuni dosa-dosa besar).
Banyak orang yang mengamalkan doa yang merayu Tuhan ini.

Cerita lucu: "Abunanawas & gajah"

Raja: Hai abunawas! engkau terkenal cerdik & pandai, aku ingin melihat itu, kalau
engkau benar2 hebat, maka buatlah gajah kesayanganku ini mengangkat kakinya,
terserah kaki yg mana, kemudian buatlah jg dia menggelengkan kepalanya. Kalau kau berhasil, maka akan ku kabulkan apapun permohonanmu, karena siapapun di negeri antah berantah ini tdk ada yg dpt melakukannya.
Abunawas; Baiklah baginda. (maka dengan akal cerdiknya abunawas mendekati sang gajah yg berkelamin laki2 itu, dan... menarik kemaluannya, maka !!!AaAaUuuu!!!... sang gajah terkejut & sedikit kesakitan & mengangkat2 kakinya.)
Raja: Berikan tepuk tangan buat Abunawas!... Eit! jangan senang dulu kamu! Selesaikan saja yg berikutnya. Abinawas: Siap baginda.
(lagi2 Abunawas mendekati sang gajah, dan berbisik ditelinganya 'hai gajah dongo! Apa mau yg seperti tadi lagi?!'... sang gajah pun dengan keras menggeleng2kan kepalanya). .....Sang Raja & seluruh rakyat yg menyaksikan melongo & terdiam kagum melihat kehebatan Abunawas.